Jumat, 19 Februari 2010

FAKTOR KEMUNDURAN SPI DI MASA UMMAYYAH DAN ABBASSIAH

Kemunduran Pendidikan islam

Sepanjang sejarahnya, sejak awal dalam pemikiaran islam terlihat dua pola pemikiran yang saling berlomba mengembangkan diri dan memiliki andil yang sangat besar dalam pendidikan islam yaitu:
1. Pola pemikiran yang bersifart tradisional yang selalu mendasarkan diri pad wahyu yang berkembang menjadi pemikran sufistik dan kemudian mengembangkan pola pendididkan sufi
2. Pola pemikiran rasional yang mementingkan akal yang mengembangkan pola pendididkan rasioanl. Pola ini sangat menperhatikan pendidikan intelektual dan material.

Kedua pola pendidikan yang menghiasi dunia islam tersebut, pada masa kejayaan pendididkan islam merupakan dua pola pendididkan yang berpadu dan saling melengkapi. Namun setelah Islam meninggalkan pola pemikiran yang bersifat rasioanal dan hanya mengambil pola pemikiran sufistik, maka pola pendididkan yang dikembangkannya pun tidak lagi menghasilkan perkembangan kebudaayaan islam yang bersifat material.
Dari sisilah dapat dikatakan bahwa pendididkan islam mengalami kemunduran atau setidaknya mengalami kemandegan. (menurut: Dra.Zuhaiini,dkk, SPI, Jakarta: Bumi Aksara, 2008, cet..9.hlm109)
Fazlur rahman-sebagaimana dikutip oleh Zuhairini-mengatakan bahwa penutupan pintu ijtihad selama abad ke 4 H/10M dan 5H/11M telah memebawa kemacetan dalam ilmu hokum dan ilmu intelektual, khususnya ilmu yang pertama. Dengan semakin ditinggalkannya pendididkan intelektual, maka semakin statis perkembangan kebudayaan islam. Ketidakmampuan intelektual dalam memecahkan berbagai masalah yang baru timbul akibat perubahan zaman, ikut merealisasi dengan dadanya pernyataan bahwa pitu ijtiihad telah tertutup, sehingga terjadilah kebekuan intelektual.

Lenyapnya metode berfikir rasioanl yang telah dikembangkan oleh kaum Mu’tazilah inin mulai terjadi ketika khalifah al-Mutawakkil menyatakan bahwa aliran mu’tazilah tidak lagi mebjadi Madzhab Negara dan digantikan dengan aliran Asy’ariyyah, ditambah dengan sikap anti pati ummat islam terhadap aliran Mu’tazilah. Ketika golongan Suni memegang otoritas poltik, tokoh-tokoh Mutazilah diusir. Ummat Islam menjadi anti pati terhadap ilmu-ilmu aqliyah. Akibatnya, perkembanngan ilmu rasional menjadi sedikit.
Antipati terhadap Mu’tazilah menyebabkanpengawasan yang ketat teerhadap kurikulum.
Untuk mengemballikan peham Ahlussunnah sekalius memperkokohnya, ulama-ulam melakukan control terhadap kurikulum di lembaga pendidikan. Materi-materi yang diajarkan pun hanya terbatas ada ilmu-ilmu keagamaan. Lemmbaga pendididkan tidak lagi mengajarkan ilmu-ilmu filosofis, termasuk ilmu-ilmu pengetahuan.

Dengan dicurigainya pemikiran rasional daya penalaran umat islam mengalami kebekuan sehingga pemikiran kritis, penelitian, dan ijtihad tidak lagi dikembangkan. Akibat dari itu semua, tidak ada lagi ulam-ulama yang menghasilkan karya-karya yang mengagumkan. Mereka tidak mau berusa memunculkan gagasan keagamaan yang cemerlang dan hanya mencukupkan diri dengan karya-karya masa lampau. Usaha yang mereka tempuh hanyalah sebatas mensyarahi atau menta’lin yang bertujuan untuk memudahkan pembaca untuk memahaminya atau menambah penjelasan dengan mengutip pendapat ulama lainnya.

Kondisi ini diperparah oleh serangan orang-orang Tartar dan mongol pada pertengahan abad ke-13M, yang menghancurkakn kerajaan Abbasiyyah. Dalam peristiwa itu umat Islam kehilangan lembaga-lembaga pendidikan dan buku-buku ilmu pengetahuan yang sangat berharga nilainya. Hancurnya pusat-pusak kebudayaan Islam (Bagdad dan Granada) menimbulkan rasa lemah dan putus as di kalangan masyarakat kaum muslimin, sehingga menimbulkan gaya hidup yang fatalistis dalam masyarakat dan mengemmbalikan segala urusan kepada Tuuhan.
Seorang yang frustasi dan fatallis tiak lagi percaya pada kemamapuannya untuk maju atau mengatasi problem keagamaan dan kemasyarakatan. Mereka lari dari kenyataan dan hanya mendekatkan diri kepad Tuuhan. Untuk itulah kebanyakan dari umat Isallm pada masa itu masuk ketarekat-tarekat dengan hanya berdzikir dan berdoa semoga allah menghapus penderitaan mereka dan mengembalikan kejayaan yang pernah diraih. Berfikir secara ilmuaih dan naturalis tidak lagi ditetapkan. Oleh karena itu berkembanglah tahayul dan khurafat di kalangan masyarakat.

M.M.sharif-sebagaimana dikutip oleh Zuhairini-mengatakan diantara sebab melemahnya pemikiran umat Islam tersebut antara lain:
1. Tetelah berkelebihan filsafat Islam yang bercorak sufi yang dimasukkan ole al-Ghozali
yang mengarah pada bidang rohaniah sehingga menghilang ke alam mega tasawuf yg
kemudian menjadi satu aliran penting di dunia timur.
2. umat Islam terutama pemerintahnya melalaikan ilmu pengetahuan dan kebudayaan
tanpa memberi kesempatan untuk berkembang. Pada masa ini para ahli ilmu umum
nya terlibat dalam urusan pemerintahan sehingga melupakan pengembangan ilmu
pengetahuan
3. Terjadinya pemberontakan yang dibarengi dengan serangan dari luar yang mengakibatkan berhentinya kegiatan pengembangan pengetahuan dan kebudayaan.
Sementara itu obor pikiran umat islam telah berpindah tangan kepda kaum Masehi, yang telah mengikuti jejak kaum Muslim. Ini terjadi diwilayah barat akibat adanya perkembangan filsafat yang bercorak rasional yang dikembangkan oleh Ibn Rusyd yang kemudian menjadi pimppinan yang penting bagi alam pikiran barat setelah islam di Andalusia hancur.


Kesimpulan;
Dari uraian diatas dapat diambil kesimpulan bahwa perkembangan ilmu pengetahuan dan pendidikan di dunia islalm mulai mengalami kemunduran ketika umat islam tidak mau menggunakan gaya pemikiran rasional dan hanya mencukupkan diri dengan karya-karya ulama terdahulu tanpa ada usaha untuk menelurkan pemikiran baru kearah yang lebih konservatif. Hal ini diasebabkan karena disebabkan karena ummat islam muklai menjauhi pemikiran filsafat akibat trauma atas peristiwa MIHNAH setelah aliran Mu’tazilah mulai menjadi madzhab kenegaraan. Kondisi ini diperparah lagi dengan keadaan para pejabat dan para kaum intelektual yang tidak lagi perhatian dengan bidang keilmuaan. Lebih-lebih ketika pusat peradaban islam mendapat serangan dari tentara Tar-tar dan Mongol yang menghancurkakan lembaga-lembaga pendidikan dan buku-buku ilmiah yang membuat umat muslim putus asa sehingga lari ke dunia sufistik yang penuh denagn tahayul dan khurafat.


SARAN:
1. Hendaknya umat islam mulai membuka pikiran dan tidak hanya mencukupkan diri dengan karya-karya ulama terdahulu. Bagaimanapun juga buku-buku tersebut merupakan karya manusia melalui proses dialog dengan kondisi pada waktu itu yang sudah barang tentu berbeda dengan masa sekarang
2. Hendaknya pemerintah memberikan perhatian yang cukup terhadap gerakan keilmuan dan pendidikan serta kaum intelektual tidak terlalu menyibukkan diri dengan urusan perpolitikan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar